Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

ARTIKEL

BELAJAR ONLINE BERBASIS WEB
ALTERNATIF BAGI SISWA

Oleh : Ludi Kurniawan, S.Pd
       Peranan website di sekolah seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi, Internet menjadi salah satu ‘kebutuhan pokok’ dalam aktifitas mencari informasi baik hiburan maupun hubungan dengan pendidikan.
        Perkembangan teknologi informasi pada saat ini khususnya teknologi internet tidak menutup kemungkinan banyak potensi dan sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Pada masa kini, pemanfaatan teknologi informasi tidak sekedar sebagai fasilitas bagi dunia pendidikan untuk memperoleh informasi-informasi terbaru mengenai pendidikan terutama di Indonesia. Website Sekolah menjadi sangat penting dan juga dapat memberikan kesan baik dan profesionalisme bagi sekolah tersebut.
        Perkembangan teknologi dan sumber informasi dari seluruh media, ternyata media internet untuk saat ini sangat digemari oleh anak - anak. Informasi yang didapat selain cepat, akurat juga dapat digunakan dan diperoleh dimana saja.
        Pengguna internet saat ini sangat diminati oleh anak anak melakukan pencarian informasi atau ilmu pengetahuan. Ini membuktikan bahwa anak - anak semakin tidak mau disibukan dengan keterbatasan waktu dan kesempatan untuk melihat informasi.  Website Sekolah sekarang ini sedang menjadi tren didunia pendidikan dan website sekolah mendapatkaan perhatian, tanggapan yang sangat bagus dari berbagai pihak baik dari tenaga kependidikan, siswa, dan juga masyarakat. Dengan web sekolah semua pihak bisa merasakan manfaat dari website sekolah.  Manfaat website sekolah untuk Tenaga pendidik atau Guru
1.    Sekolah mempunyai data data profil siswa yang akurat
2.    Membantu siswa dalam berkreasi
3.    menampilkan profil sekolah yang uptudate
4.    Terjalinnya Interaksi antar siswa Guru dan siswa yang tidak terbatas dengan ruang dan waktu
5.    Mengenalkan Profil sekolah secara umum bahkan dunia
6.    Menyediakan sarana belajar bagi siswa berupa penyampaian bahan ajar dan tes secara Online

Manfaat Website Sekolah bagi Siswa
1.    Melihat informasi informasi terbaru dari sekolah
2.    Mengakses Materi materi pelajaran yang ada disekolah dan tak terbatas
3.    Belajar Tes Pengerjaan Soal soal pelajaran untuk mengasah kemampuan
4.    Mempunyai tempat untuk Menyalurkan kreasi di web sekolah

Pembelajaran online berbasis web merupakan sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone yang membutuhkan komitmen, komunikasi, dan motivasi diri yang kuat.  Hal ini menghendaki adanya kompentensi kemapuan dalam IT bagi guru,  karena tanpa itu pembelajaran tidak akan bisa berjalan dengan baik.  Untuk itu pelatihan yang intensif harus dilaksanakan untuk kelancaran pelaksanaan pembelajaran online berbasis web. 
Dengan pembelajaran Online berbasis web memberikan kemudahan bagi guru dan siswa dalam memberikan  serta mengerjakan tugas-tugas atau tes secara Online diluar jam pelajaran.   Hal ini akan mengurangi konsumsi penggunaan kertas sebagai bahan yang biasa digunakan oleh guru dan siswa dalam mengerjakan soal pada saat tes.  Selain itu juga memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengerjakan soal-soal sesuai kesiapan siswa tersebut. Siswa diberikan batas waktu mengerjakan dan kesempatan yang diberikan kepada siswa berapa kali mengerjakannya. 
Maka dengan adanya pembelajaran online berbasis web di sekolah dapat dijadikan sebuat alternatif belajar siswa yang tidak terfokus hanya ruang atau dikelas.  Hal ini akan menjadi motivasi bagi guru dan siswa untuk lembih mengembangkan lagi media dan bahan ajar sesuai dengan perkembangan ilmu dan dan teknologi.

Sabtu, 07 Januari 2012

ARTIKEL

VIDEO DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA 
Oleh : Ludi Kurniawan, S.Pd  
 
     Suatu ciri khas dalam pendidikan “modern” saat ini, hendaknya siswa dapat berpartisipasi aktif sedemikian hingga melibatkan intelektual dan emosional siswa di dalam proses belajarnya. Dengan demikian dapat diterjemahkan bahwa dalam setiap pembelajaran bahasa Indonesia  harus diarahkan untuk pengembangan daya aktivitas siswa baik mental maupun fisik.
Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, dan perangkat audio visual. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.  Ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh (Arsyad 2002 : 9) Belajar dengan menggunakan indera ganda – pandang dan dengar akan memberikan keuntungan bagi siswa.  Siswa akan belajar lebih banyak daripada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar.
Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, inovasi ini memerlukan sarana dan prasarana serta kemampuan guru dalam menggunakan media tersebut.
Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini belum dilaksanakan secara maksimal. Siswa selama ini masih menerima pembelajaran dengan menyimak pembacaan sebuah teks pidato yang dibacakan oleh siswa atau guru  sehingga dalam pembelajaran timbul kebosanan dan ketidakmenarikan yang dirasakan oleh siswa. Hasil belajar pun belum sesuai dengan yang diharapkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka solusi sebagai  upayam meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa adalah dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa berupa menyimak pidato dalam bentuk rekaman.
Kata media berasal dari bahasa Latin sebagai bentuk jamak dari medium. Batasan mengenai pengertian media sangat luas, namun kita membatasi pada media pendidikan, yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran.
Saat ini para pengelola pendidikan semakin sadar pentingnya media yang membantu pembelajaran. Proses kesadaran ini tumbuh secara gradual. Proses perubahan dari pemanfaatan perpustakaan yang menekankan pada penyediaan meda cetak, menjadi penyediaan-permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori serta dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan menjadi bervariatif dan secara luas. Selain itu,dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pembelajaran semakin menuntut media yang bervariasi pula. Sejak mulai adanya pendidikan, seseorang mengajar sudah memanfaatkan media. Namun jenis media dari waktu ke waktu terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikas (Modul Pelatihan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Guru SD, SMP, SMA dan SMK, Pustekomdik : 6 – 7). Secara umum media mempunyai kegunaan:
a.  memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
b.  mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
c.  menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
d. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.
e.  memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.
Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton, 1985:
a.  Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
b.  Pembelajaran dapat lebih menarik
c.  Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
d. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
e.  Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
f.   Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
g.  Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
h.  Peran guru berubahan kearah yang positif
Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media kaset audio, merupakan media auditif yang mengajarkan topik-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan (pronounciation) bahasa asing. Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong tepat karena bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan media kaset audio ini termasuk mudah, hanya membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing, sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.
Sebagai sebuah media pembelajaran, video mempunyai karakteristik yang berbeda dengan media lain. (Modul Pelatihan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Guru SD, SMP, SMA dan SMK, Pustekomdiknas : 8) Adapun karakteristik media video, yaitu:
a.  Menampilkan gambar dengan gerak, serta suara secara bersamaan.
b.  Mampu menampilkan benda yang sangat tidak mungkin ke dalam kelas karena terlalu besar (gunung), terlalu kecil (kuman), terlalu abstrak (bencana), terlalu rumit (proses produksi), terlalu jauh (kehidupan di kutub) dan lain sebagainya.
c.  Mampu mempersingkat proses, misalnya proses penyemaian padi hingga panen.
d. Memungkinkan adanya rekayasa (animasi).
Menurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.  Macam-macam motivasi sebagai berikut :
1.      Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.
2.      Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.  Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.
Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.
Hasil penelitian terhadap penerapan media pembelajaran menggunakan video dalam pembelajaran menyimak pidato diperoleh data, pada diri siswa terjadi peningkatan sebagai berikut ; Peningkatan motivasi dalam menyimak pidato dalam menentukan hal-hal pokok dan kesimpulan dari informasi yang diperdengarkan.  Peningkatan konsentrasi dalam menyimak pidato disebabkan adanya kemenarikan dari media yang disajikan.  Hasil data kuantitaf diperoleh peningkatan hasil menyimak pidato dari 7,6 % menjadi 67% dengan kenaikan 60 %
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan media video terbukti berhasil dalam meningkatkan motivasi dan hasil simakan siswa.  Untuk itu penggunaan media pembelajaran audio visual atau video dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan motivasi siswa dalam menyimak pidato sehingga akan meningkatkan hasil menyimak siswa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)


Minggu, 13 November 2011

ARTIKEL KAJIAN BUKU TEKS



Kajian Sosiologi dalam Cerita Anak
Oleh : Ludi Kurniawan, S.Pd

            Cerita anak merupakan sebagian dari media ekspresi kelompoknya, yaitu masyarakat anak-anak.  Keberhasilan atau kegagalan produk cerita anak-anak tergantung pada intensi pengarang untuk menjadikan karyanya sebagai media ekspresi yang berjarak.  Cerita anak-anak yang diproduksi oleh orang dewasa dikonsusmsi anak-anak
            Cerita anak merupakan karya orang dewasa.  Dalam proses penciptaan, pengarang mengimajinasikan suatu kehidupan yang jauh sudah dilewatinya, yaitu kehidupan masa kanak-kanak.  Cerita anak ditulis untuk aneka kalangan anak.  Karena memperhitungkan selera sebanyak mungkin kalangan anak.  Sulit rasanya pengarang untuk menulis cerita anak yang sesuai dengan selera anak.  Akan tetapi, kesulitan itu bukan tidak dapat diatasi.
            Kita dapat melihat dipasaran, semakin meluas cerita anak, baik yang asli maupun terjemahan.  Cerita anak merupakan media artistik yang tidak dapat dipungkiri lagi mempunyai ciri-ciri tertentu sesuai dengan budaya pengarangnya. Bahasa dalam cerita anak Indonesia merupakan hasil sebuah proses dialektik yang bertolak dari idiom nasional.  Dalam perjalanannya menjadi karya yang universal, idiom nasional pengarang dan pembaca kelompok pengarang tidak dapat ditinggalkan.  Cerita anak diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan siswa ataupun masyarakat pada umumnya.  Pengarang itu sendiri merupakan anggota masyarkat yang terikat oleh satatus sosial tertentu.  Buku cerita menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat dengan orang atau manusia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bahan cerita.
            Untuk mengenal lebih jauh unsur sosiologi dalam cerita anak, dibawah ini disajikan kajian tentang  konteks sosial, cermin masyarakat dan strata sosial dalam cerita anak  Menuai Badai di Lembah Madu, karya Muhamad Saidi.
           
1.      Konteks Sosial Dalam Cerita Anak
Dalam cerita anak “Menuai Badai di Lembah Madu”  dapat diketahui konteks sosial yang digambarkan oleh pengarang.  Pengarang menghadirkan tokoh si Janatama, seekor semut angkrang atau kerengga ketika menjadi patih di tengah masyarakatnya.  Dalam memimpin masyarakat semut angkrang atau kerengga,  si Janatama disegani dan dihormati oleh masyakatnya.  Sehingga apa yang diperintahkan olehnya (si janatama) selalu dilaksanakan, seperti pada kutipan berikut ini :
Rupanya terikan si Janatama di dengar oelh barisan semut pengawal.  Kelompok semut pengawal yang sejak tadi berada di cerukan tunggal kayu dekat lorong menuju sarang daerahnya, segera berdiri si Klengkeng, kepala semut pengawal mengerti bahwa patih Janatama tengah melarang setiap ekor semut keluar dari sarang persembunyiannya (Saidi, 1999:10)  


            Dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang timbul ditengah masyarakat semut angkrang atau kerengga baik itu dalam mempertahankan hidup berupa mencari makanan dan melindungi gangguan yang mengacam kehidupannya, selalu mengutamakan sikap gotong royong, kesetiakawanan yang tinggi dan saling membantu atau kerja sama.  Sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan dengan baik
            Si Janatama melindungi masyaraktnya dari berbagai gangguan yang mengancam kehidupannya.  Gangguan pertama yang dialami oleh masyarakat semut angkrang atau kerengga berupa bahaya maut dari burung pelatuk, seperti pada kutipan berikut ini :
Burung pelatuk itu masih mematuk-matukan paruhnya pada tunggal kayu besar, dekat lubang jalan keluar masuknya segerombolan semut.  Ketika beberapa ekor semut keluar dari lorong itu, mereka akan menjadi santapan burung pelatuk pemakan serangga tadi.  Bunyi patukan paruh burung pelatuk itu menggetarkan suasana di dalam ruangan tepat tinggal kelompok jenis semut krengga (accophylla smaragdina) jenis semut berwarna merah dengantubuh berukuran besar dan kaki-kakinya panjang-panjang.  (Saidi, 1999:9)

            Dengan demikian konteks sosial yang memancar dalam cerita ini adalah  pada saat semut angkrang atau kerengga menghadapi berbagai gangguan yang mengancam masyarakat semut berupa gangguan dari burung pelatuk, kedua orang manusia yang akan mengambil telur semut dan saat pengembaraaan si Janata di kerajaan semut polik.

2.      Cermin Masyarakat Dalam Cerita Anak
Cermin masyarakat yang dimunculkan dalam cerita anak Menuai Badai di Lembah Madu, merupakan masyarakat kerajaan semut merah angkrang atau krengga dalam mempertahankan kehidupan dari berbagai gangguan yang mengancamnya, seperti pada kutipan berikut ini :
Sejak peritistiwa yang mendebarkan masyarakat semut angkrang atau krengga semakin meningkatkan kewaspadaanya.  Terutama kelompok semut pengawal setiap waktu mereka hilir-mudik di sekitar istananya memeriksa tempat-tempat yang menjadi penyebab datanya musuh.  Seperti burung pelatuk pemakan serangga yang tiba-tiba menyerang tanpa diketahui dari mana asal datanya.  Mereka tidak menemukan kejanggalan-kejanggalan yang menyebabkan musuh datang tiba-tiba.  Hanya saja, si janatama mulai menduga, istananya yang berada di aas tanggul kayu sangat kentara terlihat oleh musuh dari luar (Saidi, 1999:18)

            Selain masyarakat kerjaaan semut merah angkrang atau kerengga yang digambarkan oleh pengarang juga masyarakat kerjaan semut polik yang keseharian kehidupan dalam sebuah kerajaan, seperti pada kutipan berikut ini :
“Selamat siang Gusti Ratu”, sapa pemimpin semut polik sopan,” Aku membawa sahabat baru ingin kuperkanlkan kepada Gusti Ratu” pemimpin semut polik menunjuk si Janatama, Sahabat baru yang dimaksud,   Ratu semut polik mengeliat.  Ia menatap si Janatama (Saidi, 1999: 80)

            Jadi masyarakat yang tergambar dalam cerita ini adalah masyarakat kerjaaan semut angkrang atau kerangga dan masyarakat kerjaan semut polik.

3.      Fungsi Strata Sosial dalam Cerita Anak
Tingkat masyarakat kerajaan semut yang dilukiskan oleh pengarang meliputi kerajaan semut angkrang atau kerangga dan semut polik.   Strata Masyarakat Kerajaan Semut Angkrang atau Kerangga.  Kerajaan semut angkrang atau kerangga mempunyai tingkat strata sosial dalam bermasyarakat dilingkungan kerajaan.  Strata sosial meliputi; ratu, patih, pengawal utama dan pengawal.
          a.         Ratu, merupakan pemimpin tertinggi dalam kerajaan semut angkrak atau kerangga yang mempunyai fungsi sebagai pemersatu bagi masyarakat kerajaan semut angkrak atau kerangga.  Selain itu juga bertugas untuk bertelur dan melahirkan generasi baru, seperti pada kutipan berikut ini :
Kedua ekor semut pengawal utama tadi menceritakan perjuangannya kepada sang Ratu, karena permintaan sang Ratu sendiri yang ingin mendengar cerita perjuangan mereka langsung dari keduannya.  Dari cerita kedua semut pengawal utama, sang Ratu membatin bawah ditengah masyarakatnya masih banyak pahlawan yang rela berkorban untuk keselamatan bangsanya.  Sang Ratu tidak pernah berpikir tentang istananya.  Bahkan makanannya pun sudah disediakan oleh kelompok smeut kerengga biasa yang setiap hari mencari makanan.  Tugas sang Ratu hanya makan, dan bertelur melahirkan generasi berikut (Saidi, 1999: 17,19)

         b.         Patih, dalam urutan kepangkatan dalam sebuah kerajaan merupakan wakil dari sang pemimpin atau ratu.  Fungsi seorang patih di tengah-tengah masyarakat kerajaan semut angkrang atau kerengga sebagai pengendali dalam memimpin jalannya komponen-komponen yang ada dalam sebuah kerajaan.  Selain itu juga patih bertugas menyeleksi generasi semut untuk diberi tugas sesuai kondisi dan kemampuan semut angkrang atau kerangga, seperti pada kutipan berikut ini :
Si Janatama bertugas menjadikan generasi semut krengga atau angkrang sebagai semut kerengga biasa, pengawal dan pengaman khusus disekitar sarang semut.  Si Janatama menyeleksi setiap generasi semut tadi.  Ada yang dilatih sebagai semut pengawal utama, ada juga yang dilatih sebagai pengawal biasa.  Bagi semut yang memiliki tubh kuat dan kaki tegap,  si Janatama memilihnya menjadi semut pengawal.  Kelompok semut yang bertugas mengasi istana (sarang) sang Ratu adalah mereka yang memiliki tubuh kekar dan bertaring kuat serta mempunyai akal yang cerdik dibandingkan pengawal lainnya.  Kelompok semut tersebut semut yang bertugas menjaga istana Ratu adalah kelompok pengawal utama (Saidi, 1999:11)

          c.         Pengawal Utama, semut kerengga atau angkrang yang menjabat sebagai pengawal utama harus memiliki tubuh kekar dan bertaring kuat serta mempunyai akal yang cerdik atau pandai.  Kelompok semut pengawal utama berfungsi untuk menciptakan keamanan di sekitar istana Ratu.  Sedangkan tugas sehari-hari mengamankan keadaan istana dari serangan musuh, seperti pada kutipan berikut ini:

.... Kelompok semut yang bertugas mereka yang memiliki tubuh kekar dan bertaring kuat serta mempunyai akal cerdik di banding pengawal lainnya.  Kelompok  semut tersebut yang bertugas menjaga istana Ratu adalah kelompok pengawal utama. (Saidi, 1999:11)

         d.         Pengawal Biasa,  Semut pengawal biasa, merupakan semut angkrang atau kerangga yang mempunyai ciri-ciri taring-taringnya tajam dengan kaki-kakinya yang panjang, tegap dan terlihat sangat menakutkan.  Fungsi semut pengawal biasa dalam masyarakat semut angkarang atau kerangga sebagai penjaga keamanan pada semut kerangga biasa mencari makanan, seperti berikut ini :
....Sedangkan semut pengawal bertugas mengawal semut kerangga biasa di tengah mencari dan membawa makan ke istana Ratu.  Kalau ada gangguan diperjalanan, maka semut pengawalah yang akan tampil membela semut kerangga biasa (Saidi, 1999:11)

Selain menjaga keamanan semut kerangga atau angkrang jug membantu pengawal semut utama menjaga istana baru, seperti pada kutipan berikut ini :
Sedangkan kelompok semut pengawal tampak hilir mudik di sekitar istana baru.  Tampaknya mereka melihat-lihat keadaan disekitar istana untuk mengetahui sejauhmana jaminan keselamatan masyarakat semut krengga di istana barunya.  Mereka mengukur kekuatan kalau-kalau ada musuh yang tiba-tiba menyerangnya,  sekaligus berjaga-jaga ketika semut kerengga biasa melaksanakan tugasnya. (Saidi, 1999:25)

          e.         Semut-semut kerangga Biasa,  merupakan lapisan masyarakat yang paling bawah pada kerajaan semut kerengga atau angkrang.  Semut-semut kerengga biasa jumlah sangat banyak dibandingkan dengan semut yang lainnya yang berfungsi sebagai pencari makanan untuk sang Ratu,  seperti pada kutipan berikut ini :
Kemudian si Janatama memerintah dan kelompok semut kerengga biasa untuk menggotong makanan-makanan antara mereka menggotong telur dan larva yang baru keluar dari perut sang Ratu.  Kelompok semut kerengga biasa mulai kelaur darisarangnya dengan membawa makanan telur dan larva.  Tampak barisan semut krengga biasa mulai memanjang, baik tali panjang berwarna merah yang terputus.  (Saidi, 1999:22)

            Berdasarkan kajian unsur sosiologi yang terkandung pada cerita anak Menuai Badai di Lembah Madu, dapat disimpulkan bahwa konteks sosial yang digambarkan dalam cerita anak Menui Badai di Lembah Madu pada saat semut angkrang atau kerengga mempertahankan hidupnya dari berbagai gangguan yang mengancam.  Cermin masyarakat yang tergambar adalah masyarakat kerjaaan semut merah angkrang atau kerangga yang dilukiskan layaknya sebuah kerajaan dalam kehidupan manusia. Sedangkan tingkat sosial yang tercermin dalam cerita anak tersebut merupakan kerajaan semut merah angkrang atau kerengga meliputi: ratu, patih, pengawal utama, pengawal biasa dan semut kerengga biasa.
            Mengingat buku cerita anak banyak manfaatnya selain sebagai hiburan juga kita dapat mengambil hikmah dari  nilai-nilai yang terkandung misalnya nilai sosial berupa gotong-royong, kesetiakawanan yang tinggi dan saling membantu atau kerja sama. Ini sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berkarakter bangsa.

Jumat, 11 November 2011

ARTIKEL

Artikel ditulis pada tanggal 2 Mei 2001 dalam rangka lomba penulisan artikel Memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2001  yang diselenggarakan oleh PWI Cabang Kabupaten Garut 

OTONOMI DAERAH DAN KEMANDIRIAN GURU
Oleh : Ludi Kurniawan, S.Pd

            Undang-undang Republik Indonesia nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan daerah menjadi landasan yuridis berlakunya otonomi daerah.  Undang-undang ini mendorong kesadaran kita pentinya potensi daerah sebagai kesatuan dan kekuatan nasional, serta pentingnya kesiapan untuk menghadapi tuntutan perkembangan dan persaingan global.  Selain itu juga menghendaki terselenggaranya desentralisasi dan otonomi daerah yang lebih longgar dibandingkan sentralisasi
            Otonomi daerah dapat diartikan penyerahan wewenang beberapa urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.  Salah satu wewenang yang pelaksanaanya diserahkan kepada daerah menyangkut urusan bidang pendidikan.
Otonomi bidang pendidikan memberikan kewenangan kepada daerah untuk merencanakan dan melaksanakann sendiri pembangunan bidang pendidikan.  Hal ini menuntut daerah harus mamapu membiayai sendiri segala pengeluaran yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan.  Dengan kata lain keberhasilan pembangunan bidang pendidikan di daerah sangat tergantung kemampuan pemerintah daerah dalam menggali berbagai potensi dan menggunakan segala sumber daya serta kemapuan mendorong masyarakat agar ikut berperan serta dalam penyelenggaraan atau pengelolaan pendidikan.
            Untuk mewujudkan pelaksanaan otonomi bidang pendidikan diterapkan suatu model pengelolaan sekolah yang satu sisi memberikan keleluasaanpengelolaan sekolah kepada kepala sekolah dan sisi yang lian memberikan peluang kepada masyarakat untuk mengelola sekolah.  Model pengelolaan ini diberi nama “Manajemen Berbasis Sekolah”(School Based Management)
            Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan suatu sistem pengelolaan sekolah yang memberikan otonomi luas kepada sekolah dan masyarakat dalam menyelenggarakan atau mengelola pendidikan.  Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuntut peran serta masyarakt, pemerataan, efisiensi serta manajemen yang bertumpu di tingkat sekolah.  Model ini membuat semakin rencahanya kontrol pemerintah pusat, tetapi dilain pihak semakin meningkatkanya otonomi sekolah untuk menentukan sendiri apa yang perlu diajarkan dan mengelola sumber yang ada untuk berinovasi. 
            Pelaksanaan Manajemen Berbasis sekolah (MBS) bermaksud agar kepala sekolah memiliki otonomi yang luas dalam mengelola sekolah, mengalokasi sumber daya, dan memperbesar peran masyarakat dalam pengelolaan sekolah.  Sedangkan tujuan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk tercapainya efesiensi pengelolaan pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan berupa partisipasi orang tua terhadap sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat mellui peran serta orang tua murid dalam penyusunan dan pengawasan program.
            Selanjutnya komponen-komponen dan mekanisme kerja Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat diilustrasikan seperti di bawah ini.
1.      Sekolah, melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditentukan sebelumnya dan menanggapi dan menggali harapan-harapan masyarakat di lingkungan sekolah.
2.      Pemerintah, merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menjadi prioritas nasional dan membuat seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS
3.      Orang Tua dan Masyarakat, harus dapat turut serta dalam pembuatan keputusan-keputsan di sekolah yang dilaksanakan melalui dewan sekolah (School Council) dan masyarakat.  Selain itu juga melalui dewan sekolah orang tua dan masyarakat melakukan pengawasan, memberikan saran, koreksi serta teguran apabila terjadi penyimpangan.
4.      Kepala Sekolah, Guru dan Tanaga Administrasi, harus mampu berperan sebagai manajer yang profesional dengan memiliki pengetahuan yang dalam, agar dapat memberikan pelayanan yang baik terhadap siswa, orang tua dan masyarakat.
5.      Pusat Pengembagan Profesi, untuk meningkatkan kemampuan menajaerial tenaga pendidikan (kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi) perlu dikembangkan Pusat Pengembangan Profesi (PPP) sebagai penyedia jasa pelayanan bagi tenaga kependidikan MBS dengan melibatkan LSM.
Dewan sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan Manajemen Berbasisi  Sekolah (MBS).  Keberadaan dewan sekolah akan menjadi penentu pelaksanaan otonomi pendidikan di sekolah.  Melalui dewan sekolah orang tua dan masyarkat ikut merencanakan serta mengawasi pengelolaan pendidikan di sekolah.
Pada tingkatakan operasional, guru meruapakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat pembelajaran. Kebijaksanaan pendididkan harus didukung oleh pelaku pendidikan yang merupakan ujung tombak yaitu guru melalui interaksinya dengan peserta didik.  Semua kebijakan pendidikan bagaimanapun bagusnya tidak akan memberikan hasil optmal sepanjang guru tidak mendapat kesempatan untuk mewujudkan otonomi pedagogisnya dan profesional.  Kemandirian guru akan tercermin dalam perwujudan kinerja guru sebagai pribadi, sebagai warga masyarakat, sebagai pegawai dan sebagai pemangku jabatan profesional guru yang didukung dengan kualitas pribadi.
Kemandirian guru dan kepercayaan diri mampu merencanakan perjalan hidunya serta mewujudkan secarda efektif.  Guru yang inovatif dan kreatif akan mampu menghasilkan sebagai buah karya yang lebih bermakna dalam dunia pendidikan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dan interaksinya dengan siswa.  Hal ini mengandung arti bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitato pembelajaran siswa.
Dalam menghadapi tantangan disentralisasi (otonomi) pendidikan kreativitas dan kemandirian guru sangat diperlukan agar mampu beradaptasi dengan berbagai tntutan.  Kareativitas guru sangat diperlukan dalam pendidikan karena pertama kreativitas memberikan peluang bagi guru untuk mengaktualisasikan dirinya, kedua krativitas memungkinkan guru dapat menemukan berbagai alternatif dalam penyelesaian permasalahan yang timbul, ketiaka kreativitas memungkinkan guru meningkatkan kualitas hidup berupa kesejahteraan ekonomi keluarganya.
Pendidikan merupakan proses pemberdayaan yaitu suatu proses yang ditujukan untuk mengungkapkan potensi yang ada pada manusia sebagai individu yang nantinya dapat ia sumbangkan bagi proses pembangunan.  Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.  Untuk itu pemerintah bersama kalangan swasta harus bekerja sama dalam pengembangan dan perbaikan kurikulum, sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan materi ajar serta pelatihan guru dan tenaga pendidikan.
Dua faktor penyebab tidak berhasilnya perbaikan mutu pendidikan.  Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini bersifat inut oriented.  Strategi ini beranganggapan bahwa bilamana input pendidikan telah dipenuhi, misalnya penyedia sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah0 akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan.  Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat sentralistis, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat.  Ini mengakibatkan banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat pusat tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat sekolah.
Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas, hendaknya sekolah dapat bekerja dengan koridor-koridor seperti di bawah ini.
1.      Sumber daya, sekolah harus mempunyai sumber daya sesuai kebutuhan setempat.  Selain itu pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk memperkuat sekolah dan pengalokasian sesuai dengan skala perioritas.
2.      Pertanggungjawaban, sekolah dituntut untuk memiliki pertanggungjawaban baik kepada masyarakat maupun pemerintah.  Pertanggungjawaban ini bertujuan untuk menyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika memungkinkan untuk  melaporkan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan.
3.      Kurikulum, berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional dengan pengembangan-pengembangan yang berorientasi terhadap kebutuhan daerah dan berskala internasional dalam rangka globalisasi.
4.      Personil Sekolah, sekolah bertanggungjawab dan terlibat dalam proses rekrutmen )dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf lainnya) Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah.
Dalam rangka pelaksanaan otonomi bidang pendidikan, pemerintah daerah harus menyiapkan sumber daya manuasia untuk menempati jabatan yang disesuaikan dengan keahliannya.  Selain itu juga memberikan dukungan sarana dan prasarana  biaya serta kelonggaran dalam birokrasi.   Kondisi ekonomi yang belum pulih merupakan salah satu kendala dalam implementasi otonomi bidang pendidikan.  Untuk itu diharapkan masyarakat bisa mencari solusi pemencahannya. Sehingga masyarakat tidak tergantung kepada bantuan dari pemerintah.

Selayang Pandang SMP Negeri 33 Bandung "Sekolahku Membaca"

               PROGRAM SEKOLAHKU MEMBACA
               Oleh : Ludi Kurniawan, S.Pd
  
1. Pendahuluan
Sekolahku Membaca merupakan program hasil inovasi yang dikembangkan oleh SMP Negeri 33 Bandung dibawah pimpinan kepala sekolah ibu Hj. Elia Suganda, M.Pd untuk membudayakan siswa selalu membaca buku, artikel dan ayat suci al qur’an.  Dengan kegiatan membaca setiap hari diharapkan siswa akan menambah wawasan dan ilmu  yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai kepribadian atau karakter gemar membaca.
               Kegiatan membaca dilaksanakan  setiap hari Senin sampai dengan  Jum’at mulai pukul 06.45 sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan membaca ayat suci al qur’an, asmaul husna, artikel dan doa belajar.  Program "Sekolah Membaca" Launching pada tanggal 2 Agustus 2010 diresmikan oleh Kepala Disdik Kota Bandung Drs H. Oji Mahroji  dihadiri oleh Kabid PSMP Drs H. Dede Amar, M.M.Pd, Kepala SMP  se Kota Bandung baik sekolah negeri dan swasta serta para tamu   undangan. Pelaksanaan program Sekolahku Membaca dimulai dengan pra program meliputi :
·         Menggulirkan wacana Sekolahku Membaca oleh Kepala Sekolah,yang sangat peduli pada keinginannya memasyarakatkan membaca
·         Pembentukan kepanitiaan program dari semua civitas SMPN 33 yang dikordinasikan oleh koordinator perpustakaan
·         Pencanangan waktu kerja ( Time Schedule )
·         Pencarian data dan informasi melalui Tekhnologi Informasi yang dimiliki oleh sekolah
·         Penetapan wahana ,disetiap lorong sekolah
·  Pencarian kerjasama dengan pihak luar sekolah,yaitu dengan aparat pemerintah setempat,dan instansi terkait dengan pengadaan buku atau bahan baca
·        Peresmian,dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala Dinas Kota Bandung yang dihadiri oleh kepala SMP se Kota Bandung
 Program Sekolahku Membaca dipersiapkan oleh tim dari wacana sampai dengan peresmian dan pelaksanaan pertama selama empat bulan lebih dengan system kerja pembagian kerja dan dilaksanakan dengan estafet melibatkan pula seluruh civitas SMPN 33 Bandung.
Pelaksanaan Program Sekolahku Membaca menjadi perhatian yang serius dari lingkungan sekitar terlebih para pejabat pemerintahan terkait,diantaranya adalah dengan membuka akses dalam pengadaan sumber baca dan mempermudah perijinan dalam pelaksanaan ataupun dalam peresmian program.
Ada harapan yang tersampaikan ,yaitu turut sertanya masyarakat sekitar dalam pelaksanaan program, namun dikarenakan beberapa hal belum dapat direalisasikan. Pada dasarnya masyarakat sekitar sangat mendukung dengan program tersebut.
2.     Landasan
2.1   Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2.2   Undang-Undang RI  Nomor 14 Tahun 2003, tentang Guru dan Dosen;
2.3   Peraturan Mendiknas RI Nomor 23 Tahun 2007, tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru;
2.4   Rapat Dinas Guru SMP Negeri 33 Bandung tanggal 2 Desember  2009 tentang program sekolahku membaca
2.5   Program  SMP Negeri 33 Bandung
3.    Tujuan
Tujuan Program Sekolahku Membaca adalah agar siswa, guru dan karyawan TU SMP Negeri 33 memiliki wawasan pengetahuan dan informasi yang berkembang melalui membaca buku dan artikel. 
4.    Sasaran dan Ruang Lingkup
4.1  Sasaran
Sasaran program “Sekolahku Membaca”  siswa, guru dan karyawan TU SMP Negeri 33 Kota Bandung.
4.2 Ruang lingkup 
Program kegiatan “Sekolahku Membaca” meliputi ; Membaca Al Qur’an, Membaca Asmal Husna dan Membaca Buku Pengetahuan dan Artikel.
5.     Struktur Organisasi
Susunan Program “Sekolahku Membaca”  SMP Negeri 33 Bandung meliputi :
Penanggung Jawab         : Kelapa Sekolah
                                              Hj. Elia Suganda, S.Pd
Kordinator Program           : Dra Dewi Rikma Pramanik
Sekretaris                            : Ludi Kurniawan, S.Pd
Penata kehumasan            : Ridwan Nurpalah, S.Pd
Penata Program                 : Soni Romansyah
Penata Kearsipan dan
Peralatan                            : Edi Siswanto, S.Pd
6.  Tugas Pokok (Tupoksi)
6.1 Kordinator Program
Mengkoordinir dan mengevaluasi seluruh kegiatan mulai dari tahap persiapan pelasakanaan sampai dengan pelaksanaan program.
6.2 Sekretaris
Menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan surat menyurat, baik berupa pemberitahuan dan permohonan buku-buku dan artikel untuk keperluan program Sekolahku Membaca.
2.3 Penata Kehumasan
                 a. Mempromosikan dan mempublikasikan program sekolahku membaca.
              b. Mensosialisasikan program Sekolahku Membaca kepada siswa, guru dan karyawan TU SMP Negeri 33 Bandung.
6.4 Penata Program
Menyiapkan materi-materi bacaan untuk siswa, guru dan karyawan TU serta penataan artikel dinding ditiap sudut sekolah.
6.5 Penata Kearsipan dan Peralatan
Menginventaris artikel-artikel dan buku bacaan untuk guru dan karyawan TU serta mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sekolahku membaca.
7.    Program “Sekolahku Membaca”
Mengingat keterbatasan alokasi waktu dalam kegiatan belajar mengajar, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan digunakan strategi program yang menekankan pada pembiasaan kepada siswa, guru dan karyawan TU untuk terbiasa dalam membaca baik Al Qur’an, artikel dan buku ilmu pengetahuan baik fiksi dan non fiksi sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung.   Secara rinci strategi yang dimaksud meliputi :
7.1  Metode/Teknik Membaca
Metode/teknik yang digunakan adalah metode yang dapat mengkondisikan seluruh siswa, guru dan karyawan TU untuk terlibat aktif dalam membaca, baik membaca Al Qur’an Asmaul Husna dan artikel serta buku fiksi dan non fiksi
7.2  Media Membaca
Media membaca yang digunakan meliputi artikel, buku fiksi dan non fiksi serta wahana membaca yang terdiri wahana bahasa dan religi, wahana iptek dan wahana olahraga dan kesehatan. Ditiap wahana  dilengkapi dengan  artikel dinding sesuai dengan tema wahana tersebut.
2.3  Alokasi Waktu Membaca
Waktu membaca dialokasikan dengan proporsi 10 menit untuk membaca Al Qur’an, Asmaul Husna dan Artikel serta buku fiksi dan non fiksi selama 5 hari dari hari Senin s.d Jum’at.

8.    Penutup
Dengan pelaksanakan program “Sekolahku Membaca”  di SMP Negeri 33 Bandung diharapkan para siswa, guru dan karyawan TU dapat terbiasa untuk membiasakan diri setiap hari membaca Al Qur’an, Asmaul Husna dan membaca artikel buku iptek baik fiksi dan non fisik.
Program “Sekolahku Membaca” di SMP Negeri 33 Bandung dapat berjalan dengan baik kalau ada kerja sama yang baik dari siswa, guru dan karyawan TU dalam program tersebut.  Tanpa dukungan siswa, guru dan karyawan TU maka program “Sekolahku Membaca” hanyalah sebuah nama tanpa menghasilkan suatu hasil yang maksimal.
Untuk itu dukungan dan peran serta seluruh warga SMP Negeri 33 Bandung sangat diharapkan dalam rangka menghasilkan siswa yang berkualitas dan religius